<** Sasak **>


| agama | struktur penduduk | kehidupan sosial | kepercayaan | pendidikan dan kebudayaan | penduduk bali |



Penduduk asli pulau Lombok adalah suku Sasak. Mereka berperawakan seperti layaknya orang Indonesia, berkulit sawo matang (kalaupun sedikit gelap itu karena pengaruh sinar matahari). Penduduk Sasak Asli masih banyak ditemukan di pelosok-pelosok pulau Lombok, khususnya di kaki-kaki Gunung Rinjani sebelah utara yang rimbun.

Agama
Dari hasil pengamatan kami terhadap perkampungan Senaru, salah satu perkampungan Sasak di Senaru, kami mengetahui bahwa Agama yang idnaut oleh suku Sasak adalah agama Islam. Walaupun berdasar pada agama Islam, Agama Islam di Lombok , setelah berakulturasi dengan kebudayaan setempat, terpecah menjadi 2, yaitu Agama Dima dan Agama Waktu Telu. Dalam agama Dima, orang bersembahyang menurut kemauannya sendiri. Dalam agama Waktu Telu, sesuai dengan sebutannya yang berarti 'tiga waktu', hanya beribadah 3 kali sehari, beda dengan Islam asli yang menunaikan shalat 5 kali sehari. Agama Waktu Telu ini hanya melakukan shalat pada waktu shubuh, dhuzur dan maghrib. Setiap perkampungan mempunyai seorang Hamaloka, pemangku yang memimpin segala kegiatan keagamaan kampung. Jabatan Hamaloka ini diperoleh secara turun-temurun. Hamaloka ini jugalah yang memimpin musyawarah-musyawarah penduduk seperti musyawarah acara penebangan kayu.

bentuk rumah sasak, disinilah mereka mengadakan musyawarah Struktur penduduk
Di perkampungan Senaru, kami mendapati 80 orang Penduduk yang tinggal di 14 Rumah Sasak.Selain pemangku (Hamaloka) yang tinggal di dalam wilayah perkampungan, terdapat pula seorang kepala dusun yang tinggal diluar komplek perkampungan. Kepala dusun inilah yang menghubungkan perkampungan dengan masyarakat luar (pemerintah daerah setempat). Jabatan kepala dusun ini diperoleh melalui musyawarah penduduk kampung untuk masa Jabatan 8 tahun.


Kehidupan Sosial
Mata Pencaharian mayoritas penduduk adalah berladang. Mereka menanam jagung, tomat dan Lebuikoma (kacang kedelai) di Parkir Batuko. Mereka juga memakai sistem Tumpang Sari, Lekuk Lungkung. Ladang mereka dapat dijumpai di ujung route Senaru. Di dekat ladang penduduk ini juga sekarang dikembangkan Proyek Pembangunan Pusat Pengembangan Gaharu yang dikelola oleh Ditjen Rehabilitasi Lahandan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan dan Perkebunan dan Universitas Mataram. Selain berladang, mereka juga berternak Kambing dan Kerbau unutk dijual dagingnya di saat acara-acara keagamaan. Selein itu, mereka juga berburu kijang dengan menggunakan senjata Pemangan (menyerupai tombak) dan Rajut (menyerupai Bambu runcing). Di perkampungan tersebut kami juga mendapati beberapa bangunan menyerupai gardu yang rupanya adalah tempat mereka mengadakan musyawarah-musyawarah kampung ataupun sekedar kumpul-kumpul. Mereka tidak mempunyai tempat peribadatan tertentu. Di Suku sasak ini, tidak terdapat paksaan dalam pernikahan. Pemuda/I Sasak dapat memilih pasangannya dengan bebas, bahkan dapat pula dengan orang luar. Pernikahan dibiayai oleh orang tua pihak wanita. Proses pernikahan memakan waktu sekitar 1 bulan, walau akad nikah (didampingi kyai) hanya memakan waktu 3 hari. Dalam rangka mempertahankan jumlah penduduknya yang 80 orang, apabila suatu keluarga mempunyai putra lebih dari 1, maka hanya anak pertama saja yang diharuskan untuk tinggal di perkampungan, sementara sisanya diharuskan unutk meninggalkan kampung untuk merantau.

Kepercayaan
Seperti halnya didapat pada suku-suku lain, suku sasak juga mempunyai beberapa pantangan, seperti misalnya sorang pemuda dilarang unutk menaiki gunung Rinjani sebelum mereka mendapat 'Sembe' dari sang pemuka agama. Sembe ini sendiri berupa pewarna sirih yang ditotokan di dahi pemuda diiringi dengan doa-doaan. Tidak ada kriteria tertentu atas pemberian sembe ini. Selain itu, penduduk Sasak secara rutin tipa tahunnya mengunjungi Danau Segara Anak untuk upacara berobat. Dipercaya air Danau dapat menyembuhkan penyakit.

Pendidikan dan Kebudayaan
Pendidik di perkampungan Sasak ini masih tergolong sangat minim. Sebagian besar anak menolak untuk sekolah di lembaga pendidikan formil. Hal ini mungkin disebabkan oleh jauhnya letak Sekolah dari perkampungan mereka. Dalam hal penerangan, beberapa dari mereka sudah menggunakan listrik, walau sebagian besar masih memilih minyak tanah sebagai sumber energi penerangan. Penggunaan listrik ini telah memberikan bencana bagi mereka beberapa kali. Akibat korslet yang terjadi beberapa waktu yang lalu, telah terjadi kebakaran yang melahap hampir seluruh rumah penduduk yang hanya terbuat dari bambu, kayu dan jerami. Tak sedikit penduduk yang terluka akibatnya. Selain itu, akibat cuaca yang terik pada musim kemarau, sering terjadi kebakaran hutan. Pada saat terjadi hal tersebut, sang pemangku agama di haruskan untuk naik. Dalan hal berpakaian, mereka masih berpegang pada pakaian tradisional walaupun pemuda-pemudi dan anak-anak sebagian besar sudah memakai baju moderen

Bali
Selain suku Sasak, penduduk Bali yang tinggal di Lombok juga sering mengunjungi Gunung rinjani. Memakai segala atribut upacara adat, mereka berduyung-duyung naik ke Danau Segara Anak dan melepaskan sesajen bagi putri Anjani, penunggu Gunung Rinjani. Sesajen itu biasanya berupa emas, kerbau, dan makanan yang dibuang di Danau Segara Anak.



maintained by nurvitria-amxxiv
jamadagni copyright 2000